Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan UIN Sunan Ampel

Sampah Pembawa Berkah

[ Migration, 5 September 2016 ] by- Syarifatul Hidayah

Tentu kita tidak asing lagi bukan mendengar kata sampah. apalagi untuk zaman di era modern ini, sampah termasuk masalah utama yang sering di perbincangkan di Negara-negara di seluruh dunia tidak hanya dinegara berkembang bahkan dinegara majupun sampah menjadi permasalahan besar. kenapa ? karena sampah menimbulkan banyak masalah terhadap lingkungan sekitar yakni lingkungan hidup. baik terhadap manusia,hewan,tumbuhan,serta kelangsungan ekosistem di muka bumi. sampah sendiri secara umum dibagi menjadi dua yakni sampah organic dan sampah anorganik. untuk sampah organic mungkin permasalahannya tidak sepelik sampah anorganik, dikarenakan sampah organic mampu diuraikan oleh  mikroorganisme contohnya adalah sampah daun,sayuran dll. nah… yang menjadi pusat perhatian saat ini adalah bagaimana cara memanfaatkan ataupun mengurangi sampah anorganik yang banyak menimbulkan dampak permasalahan terhadap lingkungan contohnya adalah sampah plastic. 

 

Sebagaimana yang diketahui, plastik yang mulai digunakan sekitar 50 tahun yang silam, kini telah menjadi barang yang tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Diperkirakan ada 500 juta sampai 1 milyar kantong plastik digunakan penduduk dunia dalam satu tahun. Ini berarti ada sekitar 1 juta kantong plastik per menit. Untuk membuatnya, diperlukan 12 juta barel minyak per tahun, dan 14 juta pohon ditebang. woww.. fantastis bukan ? bayangkan saja dalam satu hari kita dapat menghasilkan berapa banyak sampah plastic. Dari bangun tidur, mandi kita menggunakan sabun,odol,pembersih muka yang dibungkus plastic,saat membeli sarapan pagi,siang,malam, menggunakan kantong plastic, belum lagi membeli es, jajan beraneka warna menggunakan bahan yang terbuat dari plastic dirata-ratakan satu orang setiap hari menghasilkan 10 plastik. coba di hitung jika seluruh penduduk dunia menggunakan 10 plastik perhari tidak bisa dibayangkan berapa banyak plastic yang dihasilkan manusia. Konsumsi yang berlebih terhadap plastic ini pun mengakibatkan jumlah sampah plastik yang besar. Karena plastic  sendiri bukan berasal dari senyawa biologis yakni memiliki sifat sulit terdegradasi (non-biodegradable). Plastik diperkirakan membutuhkan waktu 100 hingga 500 tahun hingga dapat terdekomposisi (terurai) dengan sempurna hingga dapat mencemari tanah, air, laut, bahkan udara. 

 

Hal inilah yang membuat banyak pihak mulai gencar melakukan banyak aksi untuk menyelamatkan lingkungan. ini di buktikan semakin banyaknya organisasi,komunitas, baik di dalam lingkup kampus maupun diluar kampus yang menyuarakan aksinya untuk mengurangi penggunaan sampah plastic. salah satu contohnya adalah aksi di hari-hari besar lingkungan hidup dengan menukar sampah plastic dengan totebag ataupun tumbler secara cuma-cuma. dilihat juga dari semakin banyaknya mahasiswa dari seluruh kampus di Indonesia yang mulai banyak membawa botol minum sendiri dari rumah untuk mengurangi penggunaan botol air kemasan. bahkan pemerintah Indonesia telah menetapkan plastic berbayar yang dimulai dari tahun 2016 di seluruh supermarket di Indonesia. meski ini dilihat kurang efektif setidaknya masyarakat mengerti bahwa betapa bahaya sampah plastic terhadap lingkungan. 

 

Dari semua pemaparan dari sampah anorganik terlihat bahwa banyak mudhoratnya dari pada manfaatnya. hal ini tidak berlaku untuk sebagian masyarakat yang mempunyai cara pandang berbeda. mereka melihat sampah merupakan berkah bagi hidupnya. ini telah banyak dibuktikan dari beberapa orang kreatif yang telah banyak memperoleh berkah dari sampah. sebut saja contohnya seorang polisi di Kota Malang yang menjadi perbincangan hangat di berbagai media televisi dan Koran. Bukan karena dia korupsi ataupun terjerat masalah kriminal tetapi karena keikhlasannya mengumpulkan sampah dalam kerja sampingannya. Bayangkan saja seorang polisi yang notabennya merupakan aset Negara dengan gaji cukup untuk membiayai kehidupannya sehari-hari mengumpulkan, memilah,lalu menjual sampah untuk mendapatkan hasil. ini bukan dilihat dari hasilnya melainkan dari keikhlasan dia akan pedulinya terhadap lingkungan. Dia mempunyai pemikiran mulia dimana mempunyai penghasilan halal lebih berkah bagi dirinya dan kelurganya. 

 

Ini juga berlaku bagi seorang pemuda dari Kalimantan dimana ia mendapatkan berkah dari sampah yang ia tekuni. bahkan sampah dijadikan ladang bisnis olehnya. ini dilihat saat ia baru lulus Sekolah Menengah Atas di Kalimantan ia tidak melanjutkan kuliah melainkan menekuni bidang bisnis penghancuran sampah plastic menjadi biji-biji plastik (dalam bahasa jawa pelet ) untuk di ekspor ke luar negeri seperti china dll. Biji-biji plastic itu digunakan kembali untuk membuat mainan anak,handphone dll yang terbuat dari plastik. Awalnya dia terinspirasi dari banyaknya sampah plastic dan botol kemasan berserakan tanpa ada yang memanfaatkan. Ini yang membuatnya mempunyai pemikiran yang berbeda dari anak lulusan SMA lainnya hingga menunda kuliah demi menenuki bisnis ini. Omset yang diperoleh perbulan mencapai ratusan juta rupiah loh. wow…bisnis yang menggiurkan. dan kini ia telah berkuliah di bidang manajemen bisnis di salah satu universitas dengan biaya sendiri dari hasil memanfaatkan sampah. 

 

Oleh karena itu kita sebagai manusia yang hidup dari bumi dan tinggal di bumi hingga mengirup oksigen dengan bebas di bumi di haruskan menjaga dengan sebaik-baiknya agar umur kita dan umur bumi lebih panjang. Setidaknya apabila kita belum mampu membuat sampah menjadi berkah, kita memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan salah satunya dengan mengurangi penggunaan sampah anorganik terutama plastik di kehidupan sehari-hari. Saatnya kita bergerak karena manusia modern bijak menggunakan sesuatu untuk menyelamatkan bum. Kalau tidak sekarang kapan lagi? kalu tidak kita siapa lagi ? Salam Lestari.